Santet Banyuwangi: Antara Penyembuhan, Ketakutan, dan Ilmu Hitam

Dipublikasikan: 21 Agu 2026
Santet Banyuwangi: Antara Penyembuhan, Ketakutan, dan Ilmu Hitam

Di balik reputasi gelapnya, budaya supranatural Banyuwangi adalah ekosistem kompleks yang terdiri dari tabib, mantra, dan keseimbangan sosial.

Selama beberapa dekade, Banyuwangi telah memikul reputasi yang membuat banyak orang Indonesia bergidik: Kota Santet. Dalam imajinasi populer, ini adalah ranah jarum tak kasat mata dan penyakit gaib. Namun, bagi masyarakat adat Osing yang mendiami ujung paling timur pulau Jawa ini, kiasan horor sinematik tersebut menyederhanakan ekosistem spiritual yang sangat pragmatis dan mengakar kuat. Dalam sejumlah kajian mengenai tradisi Osing, ilmu gaib tidak selalu dipahami sebagai sesuatu yang secara inheren jahat; penilaiannya bergantung pada jenis ilmu, tujuan, dan penggunaannya.

Dalam budaya tradisional Osing, ilmu gaib (ngelmu) beroperasi pada sebuah spektrum. Studi antropologis mengenai wilayah ini sering mengkategorikannya ke dalam warna-warna yang berbeda. Ada magi putih (ajat) untuk penyembuhan dan perlindungan, magi kuning (pengasihan) untuk cinta dan daya tarik, serta magi merah atau hitam (santet) yang dimaksudkan untuk mengutuk atau mencelakai. Kekuatan-kekuatan ini tidak terisolasi dari kehidupan sehari-hari, melainkan secara aktif membentuk dinamika sosial, penyelesaian sengketa, dan pengobatan lokal.

Di pusat ekosistem ini adalah wong pinter (orang pintar). Sementara orang luar mungkin menggunakan label dukun santet yang menakutkan, komunitas memandang para praktisi ini sebagai pilar penting. Seorang wong pinter dikonsultasikan untuk segala hal, mulai dari menentukan hari baik untuk hajatan atau bertani, hingga menyembuhkan penyakit yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Posisi mereka di desa dibangun di atas keseimbangan antara rasa hormat yang luar biasa dan ketakutan yang sunyi.

Hierarki Ilmu Gaib

Sifat ganda ngelmu berarti batas antara tabib yang dihormati dan penyihir yang ditakuti sangatlah tipis. Seorang wong pinter yang memiliki pengetahuan untuk menyembuhkan penyakit gaib (suwuk) menggunakan air doa dan rempah-rempah, secara logis diasumsikan juga memahami bagaimana penyakit itu dikirimkan sejak awal. Ilmunya netral; niat praktisi—dan klien yang membayarnya—yang menentukan apakah itu menjadi suwuk atau santet.

Seorang praktisi mendapatkan reputasinya yang tangguh baik dengan mewarisi pengetahuan leluhur, belajar di bawah bimbingan seorang guru, atau melakukan pertapaan ketat di zona spiritual sakral yang aktif seperti Alas Purwo. Begitu sebuah reputasi terbentuk, ia bertindak sebagai mekanisme penyeimbang sosial yang kuat. Ketakutan akan santet memaksa orang kaya untuk bersikap dermawan dan orang sombong untuk rendah hati, agar mereka tidak menjadi sasaran dendam gaib dari tetangga yang lebih miskin.

Lintrik dan Ekonomi Mantra

Terlepas dari reputasi berdarah ilmu gaib Banyuwangi, mantra yang paling sering dicari bukanlah untuk pembunuhan, melainkan untuk romansa dan ekonomi. Lintrik adalah salah satu bentuk pengasihan yang paling legendaris di wilayah ini. Menariknya, ia bergantung pada media yang sangat spesifik: kartu remi bergaya Belanda kuno (kartu ceki), dan secara historis didominasi oleh praktisi wanita.

Klien secara diam-diam mencari lintrik untuk mengikat pasangan yang selingkuh, memikat kekasih idaman, atau memastikan loyalitas mutlak dari klien bisnis. Ini adalah realitas supranatural yang transaksional dan membaur dengan keseharian. Mantra-mantra tersebut tidak ditenun dalam ritual tengah malam yang dramatis dengan darah, melainkan di ruangan remang-remang yang tenang di mana kartu-kartu dibagikan dan niat difokuskan.

Konsekuensi 1998

Kepercayaan terhadap santet memiliki konsekuensi yang jauh melampaui dunia ritual. Pada 1998, tuduhan terhadap orang-orang yang dianggap memiliki ilmu santet berubah menjadi gelombang pembunuhan massal di Banyuwangi, yang kemudian menyebar ke wilayah lain di Jawa Timur. Lebih dari sekadar persoalan kepercayaan lokal, kekerasan tersebut meletus di tengah ketidakstabilan politik nasional, menyisakan pertanyaan yang terus menggantung mengenai siapa yang sebenarnya mengorkestrasi pembersihan tersebut.

→ Baca ulasan sejarah lengkap: Pembunuhan Ninja Banyuwangi 1998

Hari ini, stigma 1998 masih menyisakan bayang-bayang panjang. Sementara pemerintah daerah mengucurkan miliaran rupiah untuk mengubah citra Banyuwangi menjadi pusat ekowisata dan festival, reputasi Banyuwangi sebagai “Kota Santet” tidak berarti praktik-praktik tersebut dapat direduksi menjadi sekadar ilmu hitam. Dalam tradisi Osing, batas antara penyembuhan, perlindungan, pengasihan, dan praktik yang dianggap merugikan jauh lebih kompleks daripada label tersebut.

Artikel ini adalah publikasi orisinal dari StrangeItinerary.com.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa Banyuwangi dikenal sebagai Kota Santet?

Banyuwangi mendapatkan reputasi ini karena budaya spiritual adat Osing yang mengakar kuat, di mana ilmu gaib secara luas diakui sebagai alat sosial. Stigma tersebut secara tragis diperkuat di tingkat nasional setelah peristiwa pembunuhan massal tersangka dukun pada tahun 1998.

Apakah Santet dan Suwuk dianggap sebagai ilmu yang berbeda?

Secara historis, keduanya dipandang sebagai dua sisi dari pengetahuan yang sama. Santet digunakan untuk mendatangkan kerugian atau penyakit, sedangkan Suwuk digunakan untuk penyembuhan dan perlindungan. Praktisi yang dihormati (wong pinter) umumnya diasumsikan memiliki pengetahuan tentang keduanya.

Apa itu Lintrik dalam budaya Osing?

Lintrik adalah bentuk spesifik ilmu pengasihan yang sangat terkenal di Banyuwangi dan menggunakan media kartu remi bergaya Belanda kuno (kartu ceki). Ilmu ini umumnya dicari untuk mengikat pasangan romantis atau memastikan loyalitas bisnis.

Jelajahi