Seblang: Ritual Trans Leluhur di Banyuwangi

Setahun sekali, komunitas Osing Banyuwangi menggelar ritual bersih desa di mana penari yang dipilih masuk ke dalam kondisi trans untuk menjaga keselamatan kampung dan kesuburan tanah.
Menjelang akhir musim panen padi di Banyuwangi, seorang pawang jongkok di samping penari yang telah dipilih, lalu menyalakan dupa. Asap mengepul. Gamelan mulai berbunyi. Bagi masyarakat Olehsari dan Bakungan di Kecamatan Glagah, apa yang terjadi berikutnya bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari bersih desa, sebuah upacara penyucian kampung, dan sang penari adalah mediumnya.
Ritual Seblang merupakan milik masyarakat Osing, komunitas yang telah lama menetap di Banyuwangi dan budayanya berkembang di kawasan bekas Kerajaan Blambangan, salah satu kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Bagi masyarakat yang menjalankannya, ritual ini dipahami sebagai cara untuk berkomunikasi dengan roh leluhur, menjaga keberhasilan panen, dan membersihkan desa dari kesialan yang menumpuk sebelum siklus pertanian baru dimulai.
Olehsari dan Bakungan: Dua Tradisi yang Berbeda
Saat ini Seblang hanya bertahan di dua lokasi di Kecamatan Glagah, dan masing-masing memiliki aturan yang berbeda. Di Olehsari, ritual berlangsung selama tujuh hari berturut-turut, dimulai pada minggu setelah Idul Fitri. Penari wajib merupakan anak perempuan yang belum memasuki masa pubertas, yang secara tradisi diyakini berasal dari garis keturunan penari Seblang sebelumnya. Di Bakungan, ritual dilaksanakan hanya semalam, pada minggu setelah Idul Adha. Sang penari haruslah seorang perempuan yang telah menopause. Kedua komunitas ini menjalankan fungsi yang sama, tetapi mengikuti kalender, durasi, dan syarat penari yang sepenuhnya berbeda.
Prosesi Seblang dari Awal hingga Akhir
Upacara diawali dengan pawang yang memanjatkan doa dan memasangkan omprog—hiasan kepala ritual—ke kepala penari. Di Olehsari, omprog dibuat baru setiap hari selama tujuh hari ritual, dari daun pisang muda, bunga-bunga segar, dan pecahan cermin kecil. Setelah omprog dipasang, pawang membakar kemenyan di atas sang penari. Tak lama kemudian, penari mulai memasuki kondisi trans, dan para hadirin menggambarkannya sebagai sosok yang gerakannya tidak lagi dikendalikan oleh kesadarannya sendiri.
Dalam kondisi trans, penari bergerak terus-menerus mengikuti irama gamelan, dipandu oleh lantunan pawang. Pada beberapa momen tertentu, penari melempar selendang ke arah penonton. Siapa pun yang terkena lemparan selendang diminta untuk maju dan menari sebentar bersama penari Seblang.
Siklus tujuh hari di Olehsari ditutup dengan dua prosesi: Ider Bumi, iring-iringan mengelilingi seluruh desa, dan Ngelungsur, prosesi siraman yang menandai berakhirnya rangkaian ritual.
Bagaimana Penari Dipilih
Menurut tradisi setempat, penari Seblang di Olehsari tidak dipilih melalui audisi terbuka. Peran tersebut diyakini turun melalui garis keturunan keluarga tertentu yang terhubung dengan penari-penari terdahulu. Dalam praktiknya, pawang memegang peran sentral dalam menentukan dan mengonfirmasi siapa yang akan menjadi penari. Tradisi Bakungan, yang oleh sebagian catatan lokal dikaitkan dengan tahun 1639, mengikuti prinsip serupa.
Omprog, Musik, dan Peran Pawang
Omprog berbeda secara mencolok antara dua desa ini. Di Olehsari, hiasan kepala dibuat ulang setiap hari dari daun pisang muda segar, bunga musiman, dan cermin kecil. Di Bakungan, omprog bersifat permanen—diwariskan turun-temurun, dan umumnya terbuat dari kain mori putih. Perbedaan ini menjadikan omprog sendiri sebagai penanda dua orientasi yang berbeda: Olehsari menekankan pembaruan, Bakungan menekankan kesinambungan.
Gamelan dan lantunan pawang bersama-sama menentukan arah dan tempo gerakan penari. Pawang memimpin doa, memantau jalannya ritual, dan mengarahkan setiap bagian prosesi.
Mengapa Seblang Dilaksanakan
Bagi masyarakat yang menjalankannya, Seblang adalah bentuk bersih desa: pembersihan berkala yang berkaitan dengan keselamatan kampung dan keberhasilan pertanian. Seblang merupakan bagian dari ritme ritual tahunan masyarakat Olehsari dan Bakungan yang terikat pada kalender Islam.
Pemerintah Banyuwangi kini memasukkan Seblang dalam kalender Banyuwangi Festival. Bagi masyarakat setempat, kalender, garis keturunan penari, dan pengetahuan pawang tetap menjadi inti dari berlangsungnya Seblang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya ritual Seblang Olehsari dan Bakungan?
Di Olehsari, penari harus anak perempuan yang belum memasuki masa pubertas, berlangsung tujuh hari, digelar seminggu setelah Idul Fitri. Di Bakungan, penari wajib seorang perempuan yang sudah menopause, berlangsung semalam, digelar seminggu setelah Idul Adha. Tradisi Bakungan juga dikaitkan dengan asal-usul yang lebih tua, di mana sebagian catatan lokal menelusuri tradisi ini hingga tahun 1639.
Bisakah wisatawan menonton ritual Seblang?
Ya. Pemerintah Banyuwangi telah memasukkan Seblang ke dalam kalender Banyuwangi Festival dan di Olehsari kini tersedia area pertunjukan khusus di luar ruangan. Wisatawan boleh menyaksikan, tetapi Seblang adalah ritual bersih desa yang aktif, bukan pertunjukan yang dibuat untuk wisatawan, dan harus diperlakukan demikian. Secara tradisional waktunya adalah seminggu setelah Idul Fitri (Olehsari) dan seminggu setelah Idul Adha (Bakungan); pastikan memeriksa jadwal resmi tahun berjalan sebelum merencanakan kunjungan.