Ukiran Asmat: Arti Tiang Bis dan Nama Pemahatnya

Tiang bis mengenang orang-orang tertentu dalam kebudayaan Asmat. Riwayatnya juga menunjukkan bagaimana museum menyimpan karya, tetapi kerap kehilangan nama pemahat.
Pada 1961, seorang pendatang menemukan tiang bis di Agats lalu membawanya ke Singapura. Catatan British Museum menyebut lembaga itu mengurus pengirimannya ke Inggris setelah pemiliknya menyerahkan benda tersebut pada 1969. Rute perpindahan, ukuran, dan nomor koleksi tersimpan rapi. Nama pemahatnya tidak. Kekosongan itu membuka persoalan penting dalam seni ukir Asmat: benda menyeberangi samudra, sedangkan nama pembuatnya kerap tertinggal.
Pemahat Bukan Tradisi Tanpa Nama
Menurut kisah asal-usul Asmat yang dirangkum sejarawan seni Emily Caglayan dalam esai Met tahun 2004, The Asmat, Fumeripits memahat sosok manusia, menempatkannya di dalam jeu, lalu menghidupkannya melalui tabuhan tifa. Ini kisah penciptaan, bukan catatan sejarah. Fungsi sosialnya tetap terang. Kegiatan memahat menghubungkan orang tertentu, leluhur, dan rumah upacara tempat warga bermusyawarah, bekerja, serta mengadakan perayaan. Pemahat terampil disebut wowipits.
Antropolog Belanda Adrian A. Gerbrands menolak anggapan bahwa seni Oseania lahir tanpa pencipta yang layak disebut. Dalam monografi Wow-Ipits: Eight Asmat Woodcarvers of New Guinea terbitan 1967, ia membahas delapan pemahat Amanamkai sebagai seniman dengan gaya masing-masing. Banyak label museum masih menulis โAsmat artist(s)โ, kadang karena nama pembuat memang tidak dicatat ketika benda diperoleh. Anonim bukan sifat bawaan seni Asmat; sebagiannya lahir dari cara kolektor mendokumentasikan karya.
Arti Tiang Bis dalam Kebudayaan Asmat
Tiang bis dipahat dari satu batang. Batang dibalik, lalu salah satu akar banir yang pipih membentuk tonjolan cemen. Figur-figur disusun dalam pahatan tembus; setiap sosok merujuk orang tertentu yang dikenang dalam pesta bis. Met menjelaskan tiang ini sebagai pusat peringatan dan pengantar menuju dunia leluhur. Sumber lama juga menghubungkan pesta tersebut dengan kewajiban setelah seseorang wafat. Perayaan masa kini tidak selalu mengulang konteks terdahulu itu.
Kayu yang kini berdiri di New York atau London memiliki riwayat kedua. Salah satu tiang di Met, diperkirakan dibuat sekitar 1960, masuk ke Michael C. Rockefeller Memorial Collection melalui pemberian keluarga pada 1965. British Museum mencatat tiangnya berpindah dari Agats ke rumah pribadi di Singapura sebelum museum membiayai pengiriman ke Inggris. Dokumen itu menerangkan mekanisme perolehan, tetapi tidak menjawab apakah pembuat yang tak tercatat akan menilai prosesnya adil.
Pasar Agats Mengubah Arah Karya
Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat dibuka di Agats pada 1973. Pada Januari 1981, pengelolanya membahas penggantian lomba pelajar dengan lomba bagi pemahat Asmat yang telah berpengalaman. Kegiatan pertama pada Juli diikuti 36 pemahat. Sejarah museum mencatat bahwa karya yang tersisa dilelang, lalu penawar tertinggi membayar langsung kepada seniman. Baru pada 1991, kerja sama gereja dan pemerintah memakai nama Pesta Budaya Asmat untuk acara yang lebih luas.
Pasar memberi penghasilan dan panggung, sekaligus menghadirkan penentu selera baru. Sebuah kajian tahun 2019 di The Journal of Transcultural Studies mencatat bahwa peluang meraih hadiah dan penjualan dapat mendorong karya agar sesuai dengan ukuran โasliโ versi pihak luar. Para pemahat menghadapinya sebagai seniman yang bekerja: mereka menimbang minat pembeli, bentuk warisan, aturan juri, dan kebutuhan rumah tangga. Mereka bukan sosok yang membeku di masa lalu, juga bukan pemasok suvenir tanpa daya tawar.
Festival Asmat Pokman kini memuat seni pahat, anyaman, pangan lokal, perjalanan bakau, dan parade mendayung sambil berdiri. Lokasinya mencakup Lapangan Yos Sudarso, museum, serta jew di Kampung Syuru. Pelancong menuju Agats lazimnya menyambung perjalanan melalui Timika dan Ewer, kemudian naik perahu. Jadwal dapat berubah, sehingga informasi perjalanan milik festival dan bantuan pemandu lokal lebih berguna daripada rencana daring yang kaku. Di dalam museum, label berisi kampung dan nama seniman dapat sama berharganya dengan kayu halus di sebelahnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti tiang bis dalam upacara adat Asmat?
Tiang bis ialah pahatan leluhur dari satu batang yang dibuat untuk pesta peringatan. Figurnya merujuk orang tertentu, sedangkan satu akar banir membentuk cemen. Makna upacaranya berbeda menurut wilayah serta masa.
Mengapa banyak ukiran Asmat tidak mencantumkan nama senimannya?
Kolektor dan museum sering mencatat kelompok budaya serta jenis benda, tetapi melewatkan pembuatnya. Kajian Gerbrands tahun 1967 atas delapan pemahat bernama menunjukkan gaya individual. Ketiadaan atribusi menandakan dokumentasi yang timpang.
Bagaimana cara menuju Agats dan Festival Asmat?
Laman perjalanan festival menjelaskan rute melalui Timika menuju Bandara Ewer, lalu dilanjutkan dengan perahu ke Agats. Penerbangan dan tanggal acara dapat berubah. Konfirmasikan setiap tahap sebelum berangkat.