Festa dei Serpari: Kisah Sebenarnya di Balik Festival Ular Cocullo

Setiap tanggal 1 Mei, desa kecil Cocullo di Abruzzo mengarak patung San Domenico Abate yang diselimuti ular hidup—sebuah ritual yang sering disebut sebagai sisa tradisi pagan, meskipun bukti sejarahnya jauh lebih kompleks.
Setiap tanggal 1 Mei, desa kecil Cocullo di Abruzzo mengarak patung San Domenico Abate yang diselimuti ular hidup melintasi jalan-jalannya. Ritual ini sering disebut sebagai sisa tradisi pagan, meskipun bukti sejarah dan catatan resmi pemerintah setempat mengungkapkan kisah yang lebih kompleks. Acara yang dikenal sebagai Festa dei Serpari ini menarik ribuan pengunjung ke desa pegunungan kecil yang biasanya sepi sepanjang tahun.
Proses Penangkapan Ular
Festival ini beroperasi di bawah kerangka musiman dan hukum yang ketat. Mulai tanggal 19 Maret dan berlanjut hingga 30 April, para serpari (penangkap ular) resmi diizinkan untuk menangkap ular dari pegunungan sekitar. Mereka secara khusus menargetkan spesies tidak berbisa asli daerah tersebut, terutama ular bergaris empat (Elaphe quatuorlineata, dikenal secara lokal sebagai cervone) dan ular Aesculapian (Zamenis longissimus).
Pemantauan ilmiah modern mencatat ada puluhan ekor ular liar yang dilibatkan dalam festival ini, bukan jumlah "ratusan" yang sering dibesar-besarkan dalam catatan populer. Ular-ular tersebut ditampung sementara oleh para serpari sebelum festival. Selama masa penampungan, ular-ular tersebut diberi makan sesuai praktik lokal.
Prosesi San Domenico
Pada pagi hari tanggal 1 Mei, setelah misa gereja yang padat, para serpari berkumpul di alun-alun kota. Mereka mengeluarkan ular-ular hidup itu dan menggantungkannya pada patung kayu San Domenico Abate. Ular-ular tersebut melilit jubah berukir, meluncur melintasi wajah sang santo, dan melingkari lengan telanjang pria-pria lokal yang membawa tandu berat tersebut.
Saat patung itu bergoyang melewati jalan-jalan sempit, diiringi dentang lonceng gereja dan kerumunan yang padat, beberapa ular kadang kehilangan cengkeraman dan berjatuhan.
Konflik Narasi Angitia
Narasi yang paling gigih seputar Cocullo adalah bahwa festival ini merupakan ritual pagan yang bertahan tanpa terputus untuk menghormati Angitia, dewi bangsa Marsi pra-Romawi yang dikaitkan dengan penyembuhan dan praktik magis, serta kemudian diasosiasikan dalam tradisi populer dengan ular. Penjelasan ini dipromosikan secara luas oleh media perjalanan populer, dan bahkan materi pariwisata regional resmi masih menyajikan festival ini dalam narasi sejarah yang berpusat pada Angitia.
Namun, catatan sejarah resmi pemerintah Cocullo sendiri dengan jelas menyebut asosiasi tersebut tidak dapat diandalkan. Antropologi modern mendukung pandangan skeptis ini. Dalam karya etnografi tahun 1976 berjudul Gli aspetti magico-religiosi di una cultura subalterna italiana, antropolog Italia Alfonso Maria di Nola menentang gagasan tentang adanya kesinambungan pagan secara langsung. Di Nola berargumen bahwa kaitan dengan Angitia adalah sebuah rekonstruksi historis—mitos yang diproyeksikan ke masa lalu pada abad-abad berikutnya untuk menempatkan praktik agraris setempat dalam sejarah yang seolah jauh lebih tua.
Jika Bukan Angitia, Dari Mana Ritual Ini Berasal?
Alih-alih kultus dewi kuno, catatan historis pemerintah setempat merujuk pada para ciaralli abad pertengahan—spesialis ritual yang terkait dengan penanganan ular, penyembuhan, dan praktik yang diyakini memberikan perlindungan dari gigitan ular berbisa. Seiring berjalannya waktu, praktik para ciaralli ini menyatu dengan kultus San Domenico. San Domenico, yang lahir pada abad ke-10 dan hidup dalam tradisi monastik Benediktin, menjadi sangat dihormati di wilayah tersebut sebagai pelindung dari sakit gigi, gigitan ular, serangan serigala, dan anjing yang terinfeksi rabies.
Di Nola menekankan nilai praktis ular tidak berbisa dalam masyarakat agraris, khususnya peran mereka dalam mengendalikan hewan pengerat yang merusak persediaan gandum dan tanaman pertanian. Ritual ini menempatkan ular dalam kerangka Kristiani, di mana San Domenico menjadi penengah antara bahaya sehari-hari dari alam liar dan komunitas manusia.
Dari Penangkap Ular Menjadi Peneliti
Dalam beberapa tahun terakhir, pemantauan ilmiah dan kerja konservasi telah diintegrasikan ke dalam festival ini. Pada tahun 2010, sebuah komite ilmiah dibentuk untuk memantau ular-ular tersebut. Ahli herpetologi dan dokter hewan kini memeriksa reptil-reptil ini, mempelajari kesehatan mereka, dinamika populasi lokal, serta keberadaan mikroorganisme. Pada saat studi tahun 2024 yang dikutip di sini, lebih dari 1.300 ular telah diperiksa melalui program pemantauan ini.
Transisi ini disorot pada sebuah konferensi pemerintah daerah tahun 2026 yang bertajuk "Dari Penangkap Ular Menjadi Peneliti," yang mempresentasikan hasil pemantauan selama lima belas tahun terkait kesehatan dan konservasi spesies yang dilibatkan dalam ritual tersebut. Penelitian juga telah mengidentifikasi mikroorganisme yang berpotensi zoonosis pada ular yang ditangani, memunculkan rekomendasi modern mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan bagi para peserta dan turis.
Kembali ke Alam Liar
Festival ini diatur secara ketat untuk meminimalkan bahaya bagi ekosistem lokal. Ular-ular yang ditangkap wajib didaftarkan, dan regulasi satwa liar mengharuskan semua reptil dikembalikan ke lokasi tangkapan awalnya dalam waktu tiga hari setelah prosesi. Persyaratan ini bertujuan untuk mengurangi dampak ekologis akibat memindahkan sementara ular-ular liar dari area tersebut.
Mengunjungi Festa dei Serpari
Ukuran desa Cocullo yang kecil dan pembatasan lalu lintas pada hari festival menuntut perencanaan matang. Untuk festival tahun 2026, pihak pemerintah setempat menyediakan bus antar-jemput gratis mulai pukul 08:00 dari area parkir luar, bersama dengan kereta khusus dan pemberhentian tambahan di jalur Roma–Pescara. Sepeda dan skuter dilarang memasuki area acara, dan pengunjung perlu mengingat bahwa tidak ada pom bensin di Cocullo. Pengunjung yang merencanakan perjalanan di masa mendatang harus memeriksa pengumuman resmi terbaru dari otoritas setempat sebelum bepergian.
Hal paling aneh dari Cocullo mungkin bukanlah patung santo Katolik yang diarak berkeliling kota dengan diselimuti ular. Hal yang paling aneh adalah bahwa penjelasan yang paling sering diulang—bertahannya kultus ular pagan kuno—mungkin justru merupakan tambahan yang muncul paling belakangan dalam sejarah tradisi tersebut.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ular-ular tersebut berbisa?
Tidak. Para serpari yang memiliki izin hanya menangkap spesies tidak berbisa asli wilayah Abruzzo, seperti ular bergaris empat (Elaphe quatuorlineata) dan ular Aesculapian.
Apa yang terjadi pada ular-ular tersebut setelah festival?
Ular-ular tersebut didaftarkan dan, menurut regulasi satwa liar, harus dilepaskan kembali ke lokasi tangkapan awalnya dalam waktu tiga hari setelah festival guna meminimalkan dampak ekologis lokal.
Bolehkah turis menyentuh ular-ular itu?
Pengunjung dapat melihat para serpari menangani ular dari jarak dekat, dan interaksi kadang terjadi. Namun, ini adalah satwa liar, dan pengunjung tidak boleh mencoba memegangnya tanpa panduan eksplisit dari serparo resmi. Para peneliti telah mengidentifikasi mikroorganisme yang berpotensi zoonosis pada ular, sehingga kebersihan tangan sangat penting setelah interaksi fisik apa pun.
Apakah festival tersebut melukai ular-ularnya?
Festival ini beroperasi di bawah regulasi satwa liar yang ditujukan untuk meminimalkan bahaya. Ular yang ditangkap dipantau oleh komite ilmiah yang didirikan pada tahun 2010 untuk menilai kesehatan mereka dan efek kontak dengan manusia.