Api Biru Kawah Ijen Bukanlah Lava Biru

Dipublikasikan: 12 Mar 2024
•
Diperbarui: 22 Agu 2026
Api Biru Kawah Ijen Bukanlah Lava Biru

Fakta di balik api yang menyala di kawah Ijen—serta realitas para penambang belerang yang bekerja di tengah kepulan asapnya.

Anda mungkin pernah melihat foto-foto lava biru Kawah Ijen. Sungai-sungai biru elektrik yang mengalir di kegelapan kawah gunung berapi Jawa Timur ini telah menjadikannya salah satu anomali geologis yang paling banyak dibagikan di internet. Hanya ada satu masalah: itu bukanlah lava.

Apa yang Sebenarnya Terbakar di Ijen

Fenomena di Kawah Ijen adalah peristiwa pembakaran masif. Jauh di dalam kompleks vulkanik, gas belerang bertekanan tinggi (seperti hidrogen sulfida) keluar melalui fumarol berbatu pada suhu yang melebihi 600 derajat Celcius. Ketika gas yang sangat panas ini bersentuhan dengan udara yang kaya oksigen, ia langsung menyala, terbakar dengan nyala api biru terang dan menghasilkan gas sulfur dioksida yang sangat beracun. Sebagian unsur belerang yang terbakar mengembun menjadi wujud cair saat terbakar, perlahan mengalir menuruni tebing batu sambil tetap diselimuti nyala api biru yang pekat.

Mengapa Anda Hanya Bisa Melihatnya di Malam Hari

Karena pembakaran ini adalah api gas dan bukan batuan cair, nyala apinya relatif redup. Pada siang hari, belerang yang terbakar praktis tidak terlihat, hanya tampak sebagai gumpalan asap putih kekuningan yang pekat. Nyala birunya paling jelas terlihat dalam kondisi gelap dan menjadi sulit dibedakan setelah cahaya matahari menguat. Karena itu, pengamatan api biru biasanya dilakukan sebelum matahari terbit.

Apakah Ijen Benar-Benar Satu-satunya Tempat di Bumi dengan Api Biru?

Media perjalanan sering mengklaim bahwa Kawah Ijen adalah satu-satunya tempat di dunia di mana api biru ada. Ini secara geologis tidak akurat. Fenomena tersebut dapat terjadi di gunung berapi aktif mana pun yang mengeluarkan belerang. Misalnya, nyala api biru serupa telah didokumentasikan di Dallol, Ethiopia, dan kadang-kadang selama letusan di Kilauea, Hawaii. Yang membuat Kawah Ijen tidak biasa bukanlah karena nyala api belerang biru mustahil secara fisik di tempat lain, tetapi fenomena ini telah berulang kali diamati dan difoto di sana dalam skala besar dan berkelanjutan.

Tambang Belerang di Dalam Kawah

Api biru hanyalah produk sampingan dari apa yang membuat Kawah Ijen menjadi situs realitas ekonomi yang blak-blakan. Ventilasi vulkanik yang sama yang menghasilkan nyala api terkenal itu juga menghasilkan belerang padat dalam jumlah besar. Saat gas mendingin, ia mengeras menjadi balok-balok kuning cerah. Selama beberapa dekade, pria lokal telah turun ke lingkungan yang sangat beracun ini—sebuah kawah yang berisi danau kawah sangat asam terbesar di dunia dengan pH mendekati nol—untuk mengekstraksi bahan kimia tersebut untuk digunakan dalam kosmetik dan pemurnian gula.

Apa Arti Beban 70–90 Kilogram

Ekstraksi bergantung sepenuhnya pada otot manusia. Penambang memecahkan lempengan kuning dengan batang baja dan memuatnya ke dalam keranjang bambu kembar. Beban tipikal memiliki berat antara 70 dan 90 kilogram. Mereka harus membawa beban ini mendaki jalur berbatu yang curam sejauh 300 meter sambil menghirup sulfur dioksida yang pekat, lalu mendaki tiga kilometer menuruni sisi luarnya. Studi kesehatan kerja, termasuk penelitian dari Universitas Airlangga, telah mendokumentasikan keluhan muskuloskeletal, termasuk nyeri punggung bawah yang parah, di antara para penambang belerang Ijen.

Pariwisata Tiba di Lanskap Pekerja

Hari ini, turis dan penambang berbagi jalur yang sama persis. Pada jam 3:00 pagi, jalur ini dipenuhi dengan pengunjung internasional yang memakai respirator dan membawa tripod. Di sela-sela kerumunan turis, para penambang berjuang melintas sambil memikul beban yang kerap melebihi berat badan mereka sendiri. Pengunjung umumnya diharapkan untuk memberi jalan kepada penambang yang membawa beban berat di sepanjang jalur sempit tersebut. Para penambang terbatuk-batuk menembus kepulan asap beracun, sementara para pengunjung sibuk memotret pijar api biru hanya beberapa meter dari mereka.

Apa yang Biasanya Tidak Diperlihatkan Foto Ijen

Pembuat film dokumenter Austria Michael Glawogger, dalam filmnya tahun 2005 Workingman's Death, secara gamblang menangkap realitas apa adanya dari kawah Ijen sebelum menjadi tujuan viral. Kebenaran inti dari gunung ini tetap tidak berubah. Saat fajar menyingsing di atas kaldera, api biru menghilang ke dalam cahaya pagi. Turis turun menuju bus mereka yang menunggu, sementara para penambang menyalakan rokok kretek baru dan menyesuaikan pikulan bambu mereka untuk pendakian berikutnya.

Artikel ini adalah publikasi orisinal dari StrangeItinerary.com.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah api biru Kawah Ijen benar-benar lava?

Tidak. Cahaya biru berasal dari pembakaran gas belerang (seperti hidrogen sulfida) dan unsur belerang yang keluar dari gunung berapi pada suhu tinggi. Ketika terkena oksigen, senyawa belerang ini menyala, terbakar dengan nyala api biru terang dan menghasilkan gas sulfur dioksida yang sangat beracun. Sebagian belerang yang terbakar mengembun menjadi cairan yang mengalir, menciptakan ilusi lava biru.

Apakah berbahaya bagi wisatawan untuk mendaki ke Kawah Ijen?

Ya, ada risiko signifikan. Pendakiannya melelahkan, dan di dalam kawah, gas belerang sangat beracun dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Mengenakan masker gas industri yang tepat sangat disarankan demi keselamatan, begitu pula dengan menyewa pemandu lokal yang berpengalaman.

Bagaimana wisatawan bisa berinteraksi secara bertanggung jawab dengan penambang belerang?

Selalu beri jalan kepada penambang di jalur sempit. Beban mereka sangat berat, dan menghentikan momentum mereka sangat menyiksa secara fisik. Jangan perlakukan mereka sekadar sebagai properti foto; jika Anda ingin mendukung mereka, belilah ukiran belerang kecil mereka atau beri tip langsung jika Anda memotret mereka.

Jelajahi