Juru Kunci Merapi: Membaca Gunung di Antara Ritual dan Sains

Mengapa Merapi memiliki Juru Kunci? Kisah Mbah Maridjan mengungkap bagaimana kosmologi Jawa, ritual Keraton, sains vulkanologi, dan erupsi 2010 bertemu di satu gunung.
Di dalam ruang pantau BPPTKG di Yogyakarta, jarum-jarum digital merekam denyut seismik Gunung Merapi di atas layar yang menyala. Hanya berjarak tiga puluh kilometer ke utara, di lereng curam gunung yang sama, penduduk desa menyiapkan keranjang anyaman berisi nasi, cabai merah, dan bunga kamboja. Para ahli geologi pemerintah mengukur aktivitas gunung berapi ini dalam satuan emisi sulfur dioksida dan tremor harmonik, sementara penduduk setempat memahaminya melalui nuansa suasana hati para penghuni spiritual kawah. Keduanya bukanlah kebenaran yang saling bersaing, melainkan dua kerangka berbeda untuk memahami dan memberi makna pada Merapi—sebuah lanskap yang lekat dengan kekerasan geologis.
Geografi Kosmis Sultan
Dalam kosmologi Jawa, Merapi jauh lebih dari sekadar zona bahaya. Gunung ini membentuk jangkar utara dari sumbu kosmis tak terlihat yang sangat sakral. Garis lurus ini membelah ke selatan melewati Tugu, melintasi Keraton Yogyakarta, dan berakhir di arus ganas Samudra Hindia yang merupakan domain mitologis Ratu Laut Selatan. Dalam hubungan ritual antara Keraton dan lanskap spiritual Merapi, Sultan Yogyakarta menugaskan seorang abdi dalem yang dikenal sebagai Juru Kunci.
Juru Kunci adalah penjaga gerbang spiritual. Sebagaimana didokumentasikan oleh antropolog Judith Schlehe dalam risetnya tahun 1996 mengenai tradisi mistis Jawa, peran ini tidak dirancang untuk menghentikan letusan secara gaib. Sang juru kunci bertugas memimpin ritual Labuhan tahunan, mempersembahkan pakaian, makanan, hingga potongan rambut dari Sultan kepada gunung untuk menjaga keseimbangan kosmis. Selama puluhan tahun, tanggung jawab berat ini dipikul oleh seorang tetua desa bersahaja bernama Mbah Maridjan, yang tinggal di Dusun Kinahrejo, hanya empat kilometer dari puncak.
Ketika Kewajiban Ritual Bertemu Perintah Evakuasi
Ketegangan antara kewajiban ritual dan mitigasi bencana menjadi nyata pada Oktober 2010. Ketika grafik seismograf melonjak dan para ahli vulkanologi mengeluarkan perintah evakuasi, Mbah Maridjan menolak meninggalkan rumahnya. Keputusannya sering dibaca oleh pengamat luar sebagai penolakan terhadap perintah evakuasi. Namun, posisi Mbah Maridjan sebagai Juru Kunci memberi konteks yang lebih kompleks: ia memandang menjaga Merapi sebagai kewajiban yang melekat pada tugasnya kepada Sultan. Meninggalkan posnya, dalam kerangka pemahamannya, merupakan pelanggaran mendasar terhadap tanggung jawab tersebut.
Pada 26 Oktober, gunung ini memasuki fase letusan eksplosif berenergi tinggi. Terdorong oleh tekanan internal yang ekstrem, erupsi tersebut memicu awan panas—yang secara lokal disebut wedus gembel karena bentuk gulungannya menyerupai bulu kambing gimbal—yang menerjang lereng selatan dengan kecepatan melebihi 100 kilometer per jam. Awan gas dan material vulkanik bersuhu sangat tinggi itu menghantam Kinahrejo dan menewaskan puluhan orang. Ketika tim SAR akhirnya bisa menembus desa, laporan evakuasi mencatat bahwa jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi yang menyerupai sujud.
Kuburan dan Pariwisata di Atas Abu
Lanskap yang ditinggalkan oleh letusan-letusan berulang ini sangat muram, terutama di sekitar bunker Kaliadem. Dibangun ke dalam lereng bukit untuk melindungi warga dari hujan abu, struktur beton berat ini justru menjadi kuburan pada letusan sebelumnya di tahun 2006. Dua relawan mencari perlindungan di dalamnya saat awan panas turun. Bunker tersebut tertimbun sepenuhnya di bawah 2,5 meter material vulkanik bersuhu sangat tinggi, menewaskan keduanya. Hari ini, pintu bajanya masih terlihat di antara material vulkanik yang mengeras, menjadi pengingat atas dua korban letusan 2006.
Dalam tahun-tahun setelah erupsi 2010, wisata jip berkembang di kawasan terdampak, memberi sebagian warga sumber pendapatan baru. Penduduk yang kehilangan sapi ternak dan lahan pertanian mengumpulkan sumber daya untuk membeli jip Willys terbuka bekas, yang pada akhirnya membentuk Tur Jip Lava Merapi. Pengunjung kini menyewa operator lokal ini untuk menavigasi jalur berbatu, singgah di sisa-sisa kerangka rumah dan bunker Kaliadem.
Tur Jip Lava berada di wilayah abu-abu antara komersialisasi memori bencana dan strategi bertahan hidup masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya. Merapi menuntut negosiasi yang konstan. Di lembah bawah, seismograf digital terus mencetak garis-garis analitisnya yang fluktuatif di atas gulungan kertas. Sementara tinggi di lereng gunung, sekeranjang anyaman berisi cabai merah segar perlahan mengering di bawah sinar matahari sore.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Gunung Merapi dapat didaki?
Akses pendakian bergantung sepenuhnya pada status aktivitas dan aturan resmi terkini dari BPPTKG. Mengingat Merapi adalah gunung api yang sangat aktif, jalur pendakian via Selo sering ditutup demi keselamatan. Jangan mengandalkan artikel travel umum untuk menentukan keamanan pendakian; selalu rujuk otoritas vulkanologi setempat.
Apa itu Tur Jip Lava Merapi?
Tur Jip Lava adalah inisiatif wisata lokal yang berkembang pasca letusan 2010. Pengunjung menyewa jip Willys terbuka yang dikemudikan oleh warga lokal untuk menyusuri lanskap pascabencana, mengunjungi titik seperti bunker Kaliadem dan sisa-sisa rumah warga.
Siapakah Mbah Maridjan?
Mbah Maridjan adalah Juru Kunci (penjaga gerbang spiritual) Gunung Merapi yang ditugaskan oleh Sultan Yogyakarta untuk memimpin ritual Labuhan. Ia gugur pada letusan 2010 setelah menolak dievakuasi, sesuai dengan kewajiban yang ia pahami melekat pada perannya sebagai Juru Kunci.