Omed-Omedan: Miskonsepsi 'Festival Ciuman' di Sesetan Bali

Sehari setelah keheningan Nyepi di seluruh pulau, pemuda Banjar Kaja Sesetan menjalankan ritual tarik-menarik dan siram yang disederhanakan media menjadi 'festival ciuman' — membuang kisah asal-usul penyembuhan, krisis 1984, dan 24 jam kebisuan yang memberi makna pada keramaiannya.
Setiap pengunjung melihat hal yang sama. Dua barisan pemuda berpakaian adat putih bergerak saling menuju di jalan sempit Sesetan, Denpasar Selatan, pagi setelah Nyepi. Pria dan wanita di barisan terdepan didorong bersama oleh teman-teman mereka, lengan saling mengunci, wajah saling mendekat, sebelum ember-ember air menerpa mereka dan kerumunan bersorak. Puluhan ponsel terangkat dari kerumunan. Blog wisata kemudian akan menyebut momen itu sebagai "festival ciuman", ritual perjodohan Bali yang unik.
Label itu tidak sepenuhnya salah — tubuh memang bertabrakan, wajah terkadang memang bersentuhan. Tetapi menyebut Omed-omedan sebagai "festival ciuman" ibarat menyebut pertunjukan wayang Jawa sebagai "pertunjukan boneka". Secara teknis akurat; secara makna, hampa.
Kisah di Balik Ritual
Menurut tradisi lisan yang dipelihara oleh masyarakat Banjar Kaja Sesetan, ritual ini menelusuri akarnya ke masa Kerajaan Puri Oka — sebuah kisah yang oleh komunitas dikaitkan, secara perkiraan, dengan abad ke-17. Dalam versi yang paling banyak diceritakan, penglingsir (tokoh tetua) Puri Oka yang dikenal sebagai Anak Agung Made Raka atau Ida Bhatara Kompiang, jatuh sakit parah selama periode Nyepi. Ia menyampaikan pesan: jangan ada keributan, jangan ada keramaian di depan puri. Menghormati ini, warga menjauh, bahkan tidak bisa menjenguk.
Para pemuda-pemudi Banjar Kaja, yang merasa frustrasi dan sedih tak bisa berbuat apa-apa, mulai saling tarik dan dorong di jalan — permainan med-medan yang spontan dan riuh. Keramaian itu sampai ke puri. Sang tetua, menurut penuturan masyarakat, keluar dengan marah karena gaduh — namun ketika ia menyaksikan warganya tertawa dan saling bergumul di jalan, penyakitnya berangsur pulih. Ia sembuh. Sebelum meninggal, menurut cerita para tetua, ia berpesan agar permainan med-medan itu diulang setiap tahun di waktu yang sama sebagai wujud syukur dan pengikat kebersamaan (Simakrama).
Kisah asal-usul inilah — penyembuhan melalui keramaian bersama dan permainan fisik — yang dipahami para peserta Omed-omedan sebagai sesuatu yang mereka jalankan, bukan pamer ketertarikan romantis di depan umum.
Nyaris Hilang di Tahun 1984
Label "festival ciuman" bukan hanya ciptaan turis. Pada tahun 1984, label itu nyaris mengakhiri tradisi ini secara permanen.
Saat itu, sejumlah pihak — termasuk suara dari dalam Puri Oka sendiri, menurut catatan yang dihimpun Dinas Pariwisata Denpasar — berpendapat bahwa kontak fisik di depan umum antara pemuda-pemudi yang belum menikah dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan setempat. Muncul usulan serius untuk mengakhiri ritual tersebut.
Namun para tetua masyarakat menunjuk peristiwa berikutnya sebagai bukti status sakral ritual ini: dua ekor babi muncul dan berkelahi di jalan tempat Omed-omedan biasa digelar, suatu kejadian yang ditafsirkan komunitas sebagai peringatan dari kekuatan tak kasat mata. Apapun sumber dari kebetulan itu, perdebatan pun segera tertutup. Usulan penghapusan dibatalkan, dan ritual terus berlanjut. Dalam penuturan yang dihimpun dari Banjar Kaja, para tetua menggambarkan insiden itu sebagai momen di mana komunitas menyadari bahwa Omed-omedan adalah tradisi yang tidak seharusnya ditinggalkan.
Dari Ritual Kampung ke Agenda Heritage
Ritual ini mengalami satu perubahan institusional penting di dekade yang sama. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), lembaga nasional yang mengawasi praktik agama Hindu di Indonesia, bergerak pada tahun 1980-an untuk menyeragamkan Catur Brata Penyepian — empat pantangan Nyepi — sebagai penghayatan penuh selama 24 jam. Karena Omed-omedan sebelumnya dilakukan pada sore Nyepi itu sendiri, komunitas memindahkannya ke pagi hari berikutnya, Ngembak Geni, dan sejak saat itu pelaksanaannya konsisten di sana.
Dalam beberapa tahun terakhir, acara ini semakin dikenal luas. Pemerintah Kota Denpasar memberikan bingkai "Heritage Festival", dan kini event tersebut menarik kerumunan wisatawan domestik dan mancanegara. Peneliti Universitas Udayana telah mendokumentasikan pergeseran ini, mencatat bagaimana penampilan publik Omed-omedan yang semakin besar memunculkan pertanyaan tentang di mana ritual kampung yang hidup berakhir dan di mana pertunjukan budaya terkelola dimulai. Pada saat yang sama, mekanisme inti ritual tetap berada di tangan komunitas Banjar Kaja: sekaa teruna-teruni (organisasi pemuda terorganisir dari banjar, dibatasi untuk anggota yang belum menikah berusia 17 hingga 30 tahun) memegang kendali partisipasi, dan pecalang menegakkan batasan yang ketat. Orang luar sama sekali dilarang ikut dalam tarik-menarik.
Yang Biasanya Luput dari Perhatian Pengunjung
Bagi pengunjung yang berdiri di pinggir kerumunan pada pagi Ngembak Geni, tontonan itu termampatkan dalam beberapa menit yang riuh. Yang lebih sulit dilihat dari posisi itu adalah hubungannya dengan 24 jam keheningan seluruh pulau yang mendahuluinya.
Nyepi berarti tanpa lampu, tanpa kendaraan, tanpa kebisingan, tanpa keluar rumah — di seluruh pulau, secara bersamaan. Omed-omedan dimulai pagi setelah itu. Kontrasnya sulit diabaikan: setelah sehari tanpa aktivitas normal, jalan Sesetan kembali pada gerak, teriakan, dan siraman air dingin. Sumber-sumber yang mendokumentasikan ritual ini menyebut siraman air (penyejuk) sebagai elemen yang sekaligus menyucikan — membersihkan dan menyeimbangkan energi — dan sinyal praktis bahwa kontak fisik telah mencapai batasnya.
Menyebutnya "festival ciuman" tidak hanya salah menamai apa yang terjadi di jalan. Ia menghapus 24 jam keheningan seluruh pulau yang membuat keramaian itu bermakna.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Omed-Omedan benar-benar festival ciuman?
Lebih kompleks dari sekadar ya atau tidak. Tubuh memang bertabrakan dan wajah terkadang bersentuhan dalam Omed-omedan — label media wisata tidak sepenuhnya dikarang. Tetapi praktik ini adalah kewajiban adat (Purwa Dresta) yang berakar pada kisah asal-usul komunitas tentang raja yang sakit dan penyembuhan kolektif. Menyebutnya hanya festival ciuman mereduksi ritual menjadi momen paling mencolok secara visual sambil menghapus konteksnya sepenuhnya.
Bisakah turis ikut serta dalam ritual Omed-Omedan?
Sama sekali tidak. Tarik-menarik dan siram-siraman ini khusus untuk anggota pemuda-pemudi yang belum menikah (sekaa teruna teruni) dari Banjar Kaja Sesetan. Orang luar hanya diizinkan untuk menonton dari pinggir jalan.
Kapan Omed-Omedan dilaksanakan?
Ritual ini diadakan setiap tahun pada hari tepat setelah Nyepi (Hari Raya Kesunyian Bali), yang dikenal sebagai Ngembak Geni. Tanggal pastinya berubah setiap tahun mengikuti kalender Saka.