Cetakan Plester Pompeii: Bagaimana DNA Mengubah Ceritanya

Dipublikasikan: 17 Agu 2026
•
Diperbarui: 23 Agu 2026
Cetakan Plester Pompeii: Bagaimana DNA Mengubah Ceritanya

Sosok-sosok terkenal Pompeii bukanlah tubuh yang membatu. DNA modern dan penelitian forensik telah membongkar asumsi abad ke-19 tentang siapa para korban dan bagaimana mereka meninggal.

Selama beberapa generasi, sosok-sosok plester Pompeii telah menjadi pusat emosional dari salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia. Namun, keyakinan paling luas tentang sosok-sosok ini pada dasarnya salah: mereka bukanlah tubuh yang membatu akibat abu vulkanik.

Ketika Gunung Vesuvius meletus pada tahun 79 M, para korban terkubur di bawah batu apung dan abu setebal beberapa meter. Selama berabad-abad, jaringan lunak tubuh mereka membusuk sepenuhnya, meninggalkan rongga kosong yang presisi di dalam material vulkanik yang memadat. Pada tahun 1863, arkeolog abad ke-19 Giuseppe Fiorelli memelopori teknik menuangkan plester cair ke dalam rongga-rongga ini sebelum menggalinya. Dengan menyingkirkan abu yang mengeras, ia mereproduksi bentuk yang ditinggalkan oleh tubuh para korban di dalam endapan vulkanik yang mengeras. Bentuk yang terlihat memang plester, tetapi banyak di antaranya berisi sisa-sisa kerangka asli para korban.

Bagaimana Sebenarnya Para Korban Meninggal?

Citra tradisional tentang semua korban Pompeii yang perlahan mati lemas di bawah abu yang berjatuhan terlalu menyederhanakan fakta. Antropologi fisik modern telah mengungkapkan realitas yang jauh lebih kompleks dan masih diperdebatkan. Penelitian yang dipimpin oleh Pier Paolo Petrone pada tahun 2010 berargumen bahwa panas mematikan dari arus densitas piroklastik menyebabkan kematian cepat atau seketika bagi banyak korban. Studi ini memperkirakan suhu di Pompeii melampaui 250°C, yang menyebabkan postur tubuh tertekuk terkait panas—sering digambarkan sebagai "sikap pugilistik"—sebuah kontraksi anggota badan akibat panas yang ekstrem, bukan reaksi pertahanan diri.

Namun, perdebatan ilmiah belum selesai. Studi lain, seperti analisis tahun 2023 terhadap para korban di Porta Nola, mempertahankan bahwa asfiksia (mati lemas) berperan dalam konteks tertentu, ketika arus piroklastik yang lebih encer membawa abu halus yang mencekik. Karena itu, bukti yang ada menunjukkan bahwa tidak ada satu penyebab kematian yang dapat diterapkan pada semua korban: mekanisme mematikan bervariasi dengan fase letusan, lokasi, dan paparan.

Apa yang Diungkap DNA tentang Para Korban

Sementara para antropolog memperdebatkan penyebab kematian, para ahli genetika mulai mempertanyakan siapa sebenarnya para korban tersebut. Pada tahun 2024, sebuah studi yang diterbitkan dalam Current Biology mengekstraksi DNA kuno dari 14 cetakan yang sedang direstorasi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa beberapa asumsi lama tentang jenis kelamin dan hubungan biologis dari cetakan tertentu tidak akurat.

Kelompok "House of the Golden Bracelet" yang terkenal telah lama disajikan kepada wisatawan sebagai keluarga inti yang tragis. Orang dewasa yang mengenakan gelang emas rumit dan memangku seorang anak telah lama ditafsirkan sebagai seorang ibu kaya. Namun, analisis DNA mengungkapkan bahwa orang dewasa tersebut berjenis kelamin laki-laki berdasarkan analisis genetik, dan keempat individu tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan biologis. Demikian pula, "The Embrace" yang sering difoto dan kerap ditafsirkan sebagai dua saudara perempuan atau ibu dan anak yang mati bersama, terbukti mencakup setidaknya satu individu yang secara genetik berjenis kelamin laki-laki.

Bagaimana Kita Mengubah Korban Menjadi Cerita

Bukti DNA ini tidak berarti orang-orang tersebut adalah orang asing. Ketiadaan hubungan biologis tidak bisa memberi tahu kita apakah mereka berbagi hubungan kekeluargaan, rumah tangga, hukum, atau hubungan sosial lainnya. Sebaliknya, hasil ini menyoroti betapa mudahnya pengamat modern mengubah kedekatan fisik, perhiasan, dan asumsi gender menjadi cerita tentang hubungan keluarga Romawi. Penafsiran awal membangun sebuah tragedi yang mudah dikonsumsi, dan terkadang foto-foto cetakan bahkan diarahkan secara khusus untuk menonjolkan wajah yang tampak ketakutan.

Saat ini, mengunjungi cetakan di Pompeii menghadirkan realitas yang tidak nyaman. Cetakan-cetakan itu tetap dipajang, tetapi sifat aslinya—sebagai cetakan arkeologis yang berisi sisa-sisa manusia asli dan hubungan sosial yang kompleks serta tidak dapat diketahui secara pasti—bertentangan dengan label rapi yang diberikan kepada mereka seabad yang lalu. Sains telah membongkar cerita-cerita sederhana, mengungkapkan bahwa kebenaran di balik para korban Pompeii jauh lebih rumit daripada mitosnya.

Artikel ini adalah publikasi orisinal dari StrangeItinerary.com.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah cetakan plester Pompeii berisi sisa-sisa manusia?

Ya. Banyak cetakan memasukkan sisa-sisa kerangka asli para korban di dalam plester, tetapi mereka bukanlah tubuh membatu utuh yang terbungkus abu.

Bagaimana korban yang diwakili oleh cetakan Pompeii meninggal?

Penyebab kematian bervariasi. Beberapa korban kemungkinan besar meninggal seketika akibat panas mematikan dari arus densitas piroklastik (syok termal), sementara yang lain mungkin meninggal karena asfiksia akibat menghirup abu vulkanik halus, tergantung pada lokasi mereka dan fase letusan.

Apa yang diungkapkan studi DNA 2024 tentang korban Pompeii?

Sebuah studi DNA kuno tahun 2024 menunjukkan bahwa beberapa asumsi lama tentang jenis kelamin dan hubungan biologis dari cetakan tertentu tidak akurat. Misalnya, individu-individu di 'House of the Golden Bracelet' bukanlah keluarga inti biologis.

Jelajahi