Perpecahan 1868: Bagaimana Jepang Memisahkan Dewa dari Mayat

Ungkapan bahwa orang Jepang ‘lahir sebagai Shinto dan mati sebagai Buddha’ menyembunyikan sejarah yang jauh lebih rumit. Pada 1868, negara Meiji memaksakan pemisahan keras setelah berabad-abad sinkretisme agama, menggambar ulang batas antara kemurnian dan kematian.
Pada musim semi 1868, pemerintah Meiji yang baru dibentuk mulai menerbitkan apa yang kemudian dikenal sebagai Shinbutsu Hanzenrei, serangkaian perintah yang mewajibkan pemisahan antara kami dan Buddha. Sebelum dekrit ini, kehidupan religius Jepang beroperasi di dalam sistem yang sangat menyatu yang dikenal sebagai shinbutsu-shūgō. Dewa-dewa pribumi dan tokoh-tokoh Buddha berbagi kompleks yang sama, ritual, dan kerangka teologis selama lebih dari satu milenium.
Pemisahan tersebut berlangsung secara mendadak dan membawa perubahan fisik besar pada kompleks-kompleks keagamaan. Kuil-kuil yang selama berabad-abad berfungsi sebagai kompleks campuran tiba-tiba dipaksa untuk menentukan elemen mana yang milik kami dan mana yang milik Buddha. Patung dan alat ritual Buddha dikeluarkan dari kuil Shinto. Terminologi Buddha untuk para kami dilarang, dan pendeta Buddha yang secara historis melayani kompleks kuil Shinto dipaksa untuk kembali ke kehidupan sekuler atau menjadi pendeta kuil Shinto.
Dekrit pemisahan ini turut memicu haibutsu kishaku, gelombang perusakan anti-Buddha. Di berbagai wilayah Jepang, kuil-kuil Buddha ditutup atau dihancurkan, dan berbagai karya seni serta peninggalan arsitektur yang tak tergantikan turut musnah.
Mengkarantina Kematian
Pemisahan Meiji tidak menciptakan pembagian kerja keagamaan Jepang dari nol. Ia memperkeras, mengorganisasi ulang, dan melembagakan perbedaan-perbedaan yang akarnya telah ada jauh sebelumnya. Istilah ringkas yang familier, Shinto untuk kehidupan dan Buddha untuk kematian, bukanlah konsep abadi maupun murni ciptaan 1868. Negara Meiji secara paksa menggambar ulang institusi-institusi keagamaan yang telah hidup berdampingan dan tumpang tindih selama berabad-abad.
Gagasan tentang kegare (polusi ritual), terutama yang terkait dengan kematian, memiliki akar yang dalam dalam tradisi ritual Jepang. Hal ini berkontribusi pada pembatasan seputar kematian dan pemujaan kami, bahkan ketika praktik Buddha dan kami tetap sangat saling terkait. Selama berabad-abad, agama Buddha mengembangkan hubungan yang mendalam dengan urusan kematian dan praktik peringatan arwah. Namun, hal ini merupakan ekosistem yang kompleks, bukan sebuah pembagian administratif yang sederhana.
Gunung Osore di Prefektur Aomori menawarkan contoh mencolok tentang bagaimana gagasan mengenai kematian dan alam baka diukir ke dalam lanskap Jepang. Kuil Buddhanya, yang secara tradisional dikatakan didirikan oleh biksu Tendai Ennin pada tahun 862 M, berdiri di tengah lanskap vulkanik yang didominasi oleh lubang belerang mendidih dan angin yang menggigit, secara geografis mewujudkan citra neraka Buddha. Lanskap ini telah lama menarik praktik-praktik yang berpusat pada perkabungan, peringatan, dan komunikasi dengan orang mati.
Selama festival musim panas di Osorezan, medium roh wanita yang secara tradisional tunanetra, dikenal sebagai itako, berkumpul. Mereka melakukan kuchiyose, di mana mereka diyakini dapat menyampaikan pesan dari orang mati, menjadi perantara bagi keluarga yang berduka dalam menghadapi kehilangan dan keyakinan tentang alam setelah kematian.
Para Pertapa Yamagata
Hubungan mendalam agama Buddha dengan urusan kematian dan praktik memorial tergambar jelas melalui sokushinbutsu di Dewa Sanzan. Melalui asketisme gunung yang ekstrem, para praktisi yang terkait dengan tradisi keagamaan Gunung Yudono mencari transformasi spiritual dan, dalam beberapa kasus, keselamatan atau perlindungan bagi komunitas mereka.
Contoh bertahan yang paling menonjol adalah Tetsumonkai, yang menjadi sokushinbutsu pada tahun 1829 di kuil Chūren-ji, Yamagata. Para praktisi menjalani persiapan asketis ekstrem selama bertahun-tahun sebelum kematian, dan setelah itu pengawetan tubuh yang sukses dapat berujung pada pengakuan sebagai sokushinbutsu. Saat ini, sosoknya yang berongga dan terbalut jubah duduk di balik kaca, sebuah catatan material dari sekte agama yang mendorong konfrontasi dengan kematian hingga ke batas fisiknya.
Mekanika Pemurnian
Sementara tradisi Buddha sering kali berfokus pada alam baka, Shinto memberikan penekanan mendalam pada pemurnian. Membasuh tangan dan mulut di temizuya (tempat pembasuhan ritual) adalah salah satu ekspresi sehari-hari dari penekanan Shinto yang lebih luas pada pemurnian, dirancang untuk membersihkan pengunjung sebelum mendekati para kami. Selanjutnya, shimenawa (tali jerami tebal) dan shide (pita kertas zig-zag) menandai ruang atau objek yang dikhususkan sebagai area suci, membuat batas antara ruang biasa dan ruang bernilai ritual menjadi terlihat secara fisik.
Harmoni tenang yang dipasarkan kepada pengunjung menutupi sejarah yang sangat sarat konflik. Pemisahan rapi antara kuil Shinto yang murni dan kuil Buddha yang lekat dengan ritus kematian bukanlah kebenaran yang abadi. Negara Meiji tidak menciptakan batas antara kemurnian dan polusi. Namun pada tahun 1868, negara memberikan perbedaan lama ini sebuah kekuatan hukum baru—dan secara fisik menggambar ulang lanskap keagamaan yang telah menolak batasan tegas selama berabad-abad.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa kuil Shinto dan kuil Buddha terpisah di Jepang?
Selama lebih dari satu milenium, mereka terintegrasi dalam sistem yang disebut shinbutsu-shūgō. Pemerintah Meiji berupaya memisahkan pemujaan kami dari agama Buddha pada tahun 1868 dan menempatkan kuil Shinto di dalam tatanan politik kekaisaran yang baru.
Siapakah para medium itako di Gunung Osore?
Itako adalah medium roh wanita yang secara tradisional tunanetra dan berkumpul di Gunung Osore. Mereka melakukan ritual yang disebut kuchiyose, di mana mereka diyakini dapat menyampaikan pesan dari orang mati bagi keluarga yang berduka.
Bagaimana para biksu Yamagata menjadi sokushinbutsu?
Para praktisi menjalani persiapan asketis ekstrem selama bertahun-tahun, termasuk pembatasan diet ketat yang dimaksudkan untuk mengurangi massa tubuh secara drastis sebelum kematian. Beberapa catatan menggambarkan diet yang mencakup kulit pohon dan jarum pinus untuk menghilangkan lemak tubuh.
Apa itu kegare dalam Shinto Jepang?
Kegare mengacu pada polusi atau pencemaran ritual. Kematian, penyakit, dan kondisi lain secara historis telah dikaitkan dengannya, dan pemurnian atau masa penghindaran ritual mungkin diperlukan sebelum berpartisipasi dalam ritus kuil.