Huldufólk: Orang-Orang Tersembunyi di Balik Lanskap Islandia

Di Islandia modern, proyek infrastruktur terkadang beririsan dengan cerita rakyat setempat. Kisah tentang Huldufólk bahkan pernah menjadi bagian dari perdebatan nyata mengenai pembangunan jalan dan pelestarian lanskap.
Pada tahun 2013, proyek jalan raya baru yang menghubungkan semenanjung Álftanes ke Garðabær di Islandia sempat tertunda oleh aliansi yang tidak biasa. Di satu sisi terdapat kelompok lingkungan Hraunavinir yang bertekad melindungi ladang lava Gálgahraun. Di sisi lain, terdapat Ragnhildur Jónsdóttir, seorang perempuan lokal yang mengaku dapat berkomunikasi dengan Huldufólk dan mengklaim bahwa proyek tersebut akan menghancurkan Ófeigskirkja—sebuah batu basal seberat 50 ton yang ia yakini sebagai gereja bagi orang-orang tersembunyi.
Konflik ini menarik perhatian media internasional dengan narasi sensasional bahwa pembangunan jalan Islandia dihentikan oleh peri. Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih birokratis dan pragmatis. Jalan raya tersebut akhirnya tetap dibangun. Sebagai bagian dari penyelesaian konflik tersebut, Otoritas Jalan dan Pesisir Islandia (IRCA) sepakat memindahkan batu seberat 50 ton itu secara hati-hati ke lokasi lain di kawasan lava.
Kasus semacam ini tidak berarti otoritas Islandia menerima keberadaan Huldufólk secara literal. Tradisi lokal dapat menjadi salah satu faktor sosial dan budaya yang dipertimbangkan ketika proyek bersinggungan dengan lokasi yang dianggap penting oleh masyarakat. Dalam beberapa konflik pembangunan, perlindungan terhadap "batu peri" juga dapat berjalan searah dengan upaya mempertahankan lanskap alam di sekitarnya.
Ketika Folklor Bertemu Pembangunan
Folkloris Valdimar Tr. Hafstein, dalam makalahnya tahun 2000 yang diterbitkan di jurnal Fabula, membahas bagaimana cerita tentang peri dapat digunakan oleh komunitas lokal dalam konflik mengenai perubahan lanskap dan pembangunan. Dalam konteks modern, cerita-cerita tentang orang-orang tersembunyi dapat menjadi alat negosiasi sosial untuk memperlambat perubahan atau menyuarakan perlindungan lingkungan. Hafstein juga mencatat bahwa dalam berbagai cerita, Huldufólk sering digambarkan menyerupai manusia Islandia, tetapi hidup tersembunyi di dalam lanskap, sering kali lebih kaya dan memiliki kendali atas alam.
Huldufólk di Era Modern
Saat ini, dinamika tersebut telah banyak berubah. Cerita Huldufólk kini juga menjadi bagian dari industri wisata Reykjavík, mulai dari tur bertema folklor hingga berbagai suvenir.
Kasus Gálgahraun menunjukkan bahwa konflik antara pembangunan, pelestarian lanskap, dan tradisi Huldufólk memang pernah memengaruhi keputusan mengenai objek tertentu. Namun hal itu tidak berarti setiap jalan berkelok atau batu yang dipertahankan di Islandia berkaitan dengan kepercayaan terhadap peri.
Kasus Gálgahraun menunjukkan bahwa Huldufólk masih memiliki tempat dalam percakapan modern Islandia—bukan karena setiap pejabat percaya ada peri di dalam batu, tetapi karena folklor, lanskap, dan identitas lokal tidak selalu mudah dipisahkan. Jalan akhirnya dibangun. Batu itu tidak dihancurkan, melainkan dipindahkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ada hukum resmi yang melindungi peri di Islandia?
Tidak ada undang-undang khusus yang melindungi peri. Namun proyek pembangunan dapat mempertimbangkan nilai budaya, sejarah, lingkungan, dan keberatan masyarakat terhadap lokasi tertentu yang terkait dengan tradisi Huldufólk.
Apakah perusahaan konstruksi Islandia benar-benar menyewa 'pelihat peri'?
Beberapa konflik pembangunan memang melibatkan orang yang mengaku dapat berkomunikasi dengan Huldufólk, seperti Ragnhildur Jónsdóttir dalam kasus Gálgahraun. Namun hal itu tidak berarti penggunaan 'pelihat peri' merupakan prosedur standar dalam proyek konstruksi Islandia.
Apakah orang Islandia benar-benar percaya pada Huldufólk?
Tidak ada jawaban sederhana. Sikap terhadap Huldufólk berkisar dari kepercayaan literal hingga sekadar penghormatan terhadap tradisi folklor. Kasus seperti Gálgahraun menunjukkan bahwa cerita tersebut tetap memiliki arti budaya bahkan ketika keberadaan makhluk gaibnya sendiri tidak diterima secara literal.