Tsukumogami: Benda Tua yang Hidup dan Parade Malam

Dipublikasikan: 17 Agu 2026
•
Diperbarui: 26 Agu 2026
Tsukumogami: Benda Tua yang Hidup dan Parade Malam

Selami kisah abad pertengahan Jepang tentang tsukumogami—benda tua yang konon mendapatkan roh setelah satu abad—dan bagaimana yokai benda ini masuk ke Parade Malam.

Banyak mitos internet menyebutkan bahwa setiap benda di Jepang akan menjadi tsukumogami—benda mati yang hidup—tepat pada usia seratus tahun. Namun, realitas sejarahnya jauh lebih unik. Sebuah kisah terkenal dari abad pertengahan, Tsukumogami-ki (Catatan Hantu Perkakas), menceritakan bahwa peralatan yang mencapai usia seratus tahun dapat memperoleh roh dan menipu manusia. Alih-alih aturan universal dari animisme kuno, batas usia seratus tahun ini adalah rumusan sastra spesifik yang kemudian membentuk bagaimana Jepang membayangkan sifat gaib dari benda sehari-hari.

Berbeda dengan hantu yang berasal dari manusia, entitas ini muncul dari benda-benda duniawi. Sifat domestik dari yokai benda ini berarti bahwa hal-hal gaib dapat muncul dari dalam rumah. Budaya populer modern sering memperlakukan tsukumogami sebagai satu kategori rapi untuk roh benda berusia seabad, tetapi teks-teks sejarah tidaklah sesistematis itu.

Kisah Perkakas yang Dibuang

Catatan sejarah paling rinci mengenai fenomena ini adalah gulungan Tsukumogami-ki dari periode Muromachi (1336–1573). Teks tersebut menggambarkan kegiatan bersih-bersih akhir tahun di Kyoto. Gulungan itu membayangkan penduduk membuang perkakas lama tepat sebelum mencapai usia seratus tahun agar benda-benda itu tidak memperoleh roh dan membuat kekacauan.

Marah karena dibuang, perkakas tua itu berkumpul untuk merencanakan balas dendam. Menurut teks tersebut, benda-benda itu melakukan ritual keagamaan esoteris untuk mengubah diri mereka menjadi yōkai (makhluk gaib). Gerombolan yang terbentuk termasuk kecapi yang hidup, payung compang-camping, dan cermin retak.

Ketika Benda-Benda Bergabung dalam Parade Malam

Mereka kemudian memasuki ibu kota dalam prosesi balas dendam. Prosesi ini merupakan bagian dari dunia visual dan naratif yang lebih luas dari Hyakki Yagyō, Parade Malam Seratus Iblis. Parade Malam adalah motif utama dalam budaya yokai, dan Tsukumogami-ki hanyalah salah satu representasi yokai benda yang ikut serta di dalamnya.

Ahli cerita rakyat Komatsu Kazuhiko mencatat bahwa gulungan tersebut secara spesifik menempatkan prosesi iblis ini di sepanjang Jalan Ichijo di utara Kyoto. Saat ini, masyarakat Kyoto masih terus merayakan cerita rakyat ini, secara resmi menetapkan sebagian area tersebut sebagai "Jalan Yokai" untuk memperingati legenda parade perkakas yang dibuang.

Benda-benda tertentu mengembangkan ikonografinya sendiri yang khas dalam cerita rakyat Jepang. Kasa-obake adalah payung kertas usang yang melompat dengan satu kaki, menampilkan satu mata dan lidah yang panjang. Chōchin-obake sering digambarkan sebagai lampion kertas yang terbelah dan memperlihatkan mulut. Sosok-sosok ini menjadi motif yang akrab dalam seni yokai dan buku bergambar zaman Edo. Yokai benda di kemudian hari, seperti hantu payung dan lampion, saat ini sering dikelompokkan di bawah label tsukumogami, meskipun klasifikasi historisnya tidak selalu serapi itu.

Dari Roh Pendendam hingga Keselamatan Buddha

Penceritaan ulang modern sering kali hanya berfokus pada balas dendam mengerikan dari benda-benda tersebut, tetapi Tsukumogami-ki memiliki struktur yang lebih kompleks. Ceritanya tidak berakhir dengan kekerasan. Pada akhirnya, kisah tersebut berfungsi sebagai narasi keselamatan ajaran Buddha. Setelah menyebabkan kekacauan, para yokai benda dihadang oleh ritual keagamaan, yang membuat mereka membuang kemarahan mereka, mengalami transformasi religius, dan mencapai keselamatan Buddha.

Tradisi Terpisah untuk Mengenang Benda

Interpretasi modern sering membaca legenda tsukumogami sebagai peringatan agar tidak membuang barang sembarangan dan sebagai pengingat untuk menghargai benda-benda yang berguna. Pembacaan tersebut sangat sejalan dengan gagasan kontemporer tentang mottainai (menghindari pemborosan), meskipun hal itu tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya fungsi historis dari cerita rakyat ini.

Praktik Jepang yang terpisah namun terkait, yaitu berterima kasih secara ritual atau mengenang benda bekas, dapat dilihat dalam berbagai bentuk kuyō. Beberapa benda dikenang secara ritual di kuil Buddha dan kuil Shinto tertentu. Selama peringatan Hari-kuyō—yang sering diadakan pada 8 Februari di Jepang timur dan 8 Desember di Jepang barat—para penjahit menancapkan jarum yang patah ke dalam tahu yang lembut atau konnyaku.

Ritus ini mengekspresikan rasa terima kasih kepada jarum yang sudah usang dan sering kali mencakup doa untuk kelancaran keterampilan menjahit. Upacara-upacara ini memastikan benda-benda tersebut diakui secara resmi, mencerminkan kebiasaan budaya untuk berterima kasih kepada benda fisik atas manfaatnya.

Artikel ini adalah publikasi orisinal dari StrangeItinerary.com.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Benda apa saja yang muncul sebagai tsukumogami?

Gulungan abad pertengahan menggambarkan banyak perkakas dan alat yang menjadi yōkai; yokai benda populer di kemudian hari seperti hantu payung (kasa-obake) dan lampion (chochin-obake) sering kali dikaitkan dengan ide tsukumogami yang lebih luas.

Apakah ada ritual untuk mengenang benda tua di Jepang?

Ya. Beberapa kuil Buddha dan Shinto mengadakan ritus kuyō untuk benda-benda tertentu seperti jarum (Hari-kuyō) atau boneka (Ningyo-kuyō). Ritus ini mengekspresikan rasa terima kasih kepada benda tersebut daripada sekadar membuangnya.

Apa yang terjadi di gulungan Tsukumogami Emaki?

Gulungan periode Muromachi ini menceritakan kisah perkakas rumah tangga yang dibuang yang melakukan ritual esoteris untuk mendapatkan kekuatan supernatural. Mereka berbaris di Kyoto dalam parade balas dendam, tetapi kisahnya pada akhirnya diakhiri dengan benda-benda tersebut mencapai keselamatan Buddha.

Jelajahi