Beondegi: Dari Produk Sampingan Industri Sutra Menjadi Jajanan Jalanan Korea

Dipublikasikan: 17 Agu 2026
โ€ข
Diperbarui: 25 Agu 2026
Beondegi: Dari Produk Sampingan Industri Sutra Menjadi Jajanan Jalanan Korea

Temukan bagaimana kepompong ulat sutra berubah dari produk sampingan industri sutra Korea menjadi jajanan penuh nostalgia, seperti apa rasanya, dan di mana menemukannya di Seoul.

Di pasar-pasar tradisional Seoul, kehadiran beondegi biasanya ditandai oleh aromanya sebelum wujudnya terlihat: aroma tanah yang pekat menguar dari kuali berisi rebusan kepompong ulat sutra. Jajanan ini terdiri dari kepompong ngengat sutra Bombyx mori, yang direbus atau dikukus, dibumbui ringan dengan kecap asin dan garam, lalu disajikan dalam gelas kertas. Karena serangga ini disajikan utuh tanpa balutan tepung, struktur anatominya yang bersegmen tetap terlihat sangat jelas.

Secara historis, budidaya ulat sutra telah ada di Semenanjung Korea sejak periode Samhan. Selama berabad-abad, komunitas petani pedesaan yang terlibat dalam produksi sutra mengonsumsi kepompong secara informal, memanfaatkan sisa protein setelah benang sutra diekstraksi. Namun, buku-buku resep peninggalan era Joseon tidak mencatat kepompong sebagai hidangan kuliner resmi. Kepompong ulat sutra lebih berfungsi sebagai sumber makanan praktis dan lokal bagi mereka yang bekerja langsung di industri sutra.

Ledakan Ekspor Sutra Tahun 1970-an

Beondegi tidak muncul sebagai jajanan jalanan kota yang meluas sampai negara tersebut mengalami industrialisasi yang pesat. Selama tahun 1960-an dan 1970-an, pemerintah Korea Selatan secara aktif mempromosikan produksi sutra mentah sebagai pilar utama strategi ekonomi berorientasi ekspor. Untuk mengekstraksi benang sutra yang panjang tanpa memutus filamennya, kepompong dipanaskan untuk mematikan ngengat yang sedang berkembang di dalamnya. Setelah sutra digulung, tertinggallah kepompong yang kaya protein.

Ekspansi besar-besaran pabrik penggulungan sutra komersial menghasilkan volume kepompong yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai produk sampingan industri. Ketika jutaan pekerja pedesaan bermigrasi ke kota-kota untuk menghidupkan sektor manufaktur, kepompong yang murah ini menemukan pasarnya. Produk sampingan pabrik didistribusikan kepada pedagang kaki lima, mengubah beondegi menjadi camilan murah dan mudah diakses oleh kelas pekerja perkotaan.

Profil Rasa dan Kepadatan Nutrisi

Rasa beondegi sangat gurih, dengan profil rasa kacang yang sering dibandingkan dengan kastanye panggang, kedelai, atau udang kering berukuran kecil. Lapisan kitin di bagian luar memberikan sedikit perlawanan saat digigit sebelum menyentuh bagian dalam yang lebih lembut dan padat. Ketika disajikan sebagai anju (makanan pendamping alkohol), kepompong ini sering dihidangkan sebagai beondegi-tang, sup yang direbus dengan bawang putih dan cabai hijau untuk menyeimbangkan rasa tanah yang pekat.

Secara nutrisi, kepompong ini sangat padat. Berdasarkan riset farmakologis mengenai khasiat Bombyx mori, kepompong ini sarat dengan protein berkualitas tinggi dan asam amino esensial. Namun, komposisi biologis ini juga membawa risiko spesifik. Protein dalam kepompong ulat sutra dapat memicu reaksi alergi yang parah, terutama pada individu yang memiliki alergi krustasea karena adanya reaktivitas silang antara alergen serangga dan kerang.

Kesenjangan Antargenerasi

Keengganan terhadap camilan ini tidak hanya datang dari turis asing. Di dalam Korea Selatan sendiri, konsumsinya sangat terbagi berdasarkan generasi dan latar belakang pribadi. Bagi demografi yang lebih tua yang tumbuh selama ledakan industri pascaperang, aromanya membangkitkan nostalgia masa kecil dan realitas ekonomi tahun 1970-an, masa di mana protein murah sangat langka.

Bagi banyak generasi muda Korea, yang tumbuh dalam lanskap kuliner modern yang makmur, jajanan ini dipandang sebagai makanan yang rasanya perlu dibiasakan atau peninggalan masa lalu yang kurang menarik. Pemandangan serangga bersegmen ini memicu keraguan yang sama seperti yang dirasakan oleh wisatawan asing.

Hari ini, beondegi jauh lebih jarang ditemukan di jalanan kota dibandingkan pada dekade kejayaannya, meskipun masih bertahan di pasar tradisional seperti Gwangjang dan Namdaemun, di festival provinsi, dan dalam bentuk kaleng komersial di rak supermarket. Hidangan ini bertahan bukan sebagai uji nyali kuliner, melainkan sebagai artefak yang dapat dimakan dari transformasi ekonomi negaraโ€”sebuah sisa langsung dari pabrik-pabrik sutra yang memicu kebangkitan industri awal Korea Selatan.

Artikel ini adalah publikasi orisinal dari StrangeItinerary.com.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Bagaimana rasa Beondegi?

Deskripsi bervariasi berdasarkan persiapannya, tetapi umumnya memiliki rasa gurih dan kacang yang mendalam sebanding dengan kacang panggang, bersama profil umami ringan yang menyerupai udang. Teksturnya bisa terasa padat atau sedikit kenyal di bagian luar dengan bagian dalam yang lebih lembut.

Apakah aman memakan Beondegi?

Beondegi adalah makanan matang yang umum dikonsumsi di Korea, namun seperti makanan lainnya, ia tidak bebas risiko. Kepompong ulat sutra dapat memicu reaksi alergi pada individu yang rentan, dan beberapa alergen serangga dapat bereaksi silang dengan alergen krustasea. Orang dengan alergi makanan yang relevan harus berhati-hati.

Di mana saya bisa menemukan Beondegi di Seoul?

Beondegi dapat ditemukan di pasar tradisional, tempat rekreasi, festival lokal, dan pojangmacha (kedai makanan tenda), meskipun ketersediaannya bervariasi antar pedagang. Beondegi juga dijual dalam bentuk kalengan di supermarket.

Jelajahi